• blog – NYANYINYANYI YUKKK…K

    O DATANGLAH, IMANUEL / KJ 81

    (1) O datanglah, IMANUEL

    Tebus umat-MU Israel

    Yang dalam berkeluh kesah

    Menantikan Penolongnya

    Bersoraklah hai Israel

    Menyambut SANG IMANUEL!

    (3) O surya pagi, datanglah

    Dan jiwa kami hiburlah

    Halaukanlah gelap seram

    Bayangan maut yang kejam

    Bersoraklah hai Israel

    Menyambut SANG IMANUEL!

  • blog – ALMANAK HKBP

    1 Musa/Kejadian 12:3

    BAHASA BATAK

    Dungi ninna Jahowa ma mandok Abraham: PasupasuonKu ma ho, jala pabalgabalgaonLu goarmu, asa gabe pasupasu ho

    INDONESIA

    Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

  • blog – ROTI HIDUP GKI

    Ibrani 10:5-10

    MAKSUD KEDATANGAN TUHAN

    (7) Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.

  • blog – DAILY BREAD/SY (KJV)

    Romans 8:37

    Nay, in all these things we are more than conquerors through him that loved us.

  • blog - COMMENTS

    Didik Wijayanto on Nostalgia Seorang Ibu Pada Tah…
    Yulita Silitonga on Nostalgia Seorang Ibu Pada Tah…
    yanne on guest book
    mona on Roti Hidup, COLOSSIANS 3 : 15 …
    Paul Kirshner on Roti Hidup, ACTS 4 : 13 …
    Sulastri SUDARSONO, … on Roti Hidup, MARK 11 : 25 …
    kiamat sudah dekat??… on GAMALIEL
    dianasihotang on who am I
    dianasihotang on curriculum vitae
    NDH on who am I
  • EMAIL SUBSCRIPTION

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

  • blog – META

Karyawan Dan Majikan

MenjaringHatiOleh: Dr. Andar Ismail

Kita memang melihat, memikirkan dan merasakan segala sesuatu dari sudut pandang atau perspektif diri kita sendiri. Persoalannya mulai timbul kalau itu menyangkut kepentingan dan hak. Kita sangat peka tentang hak kita sendiri. Kita menjerit kalau hak kita dijepit. Tetapi kita tenang-tenang saja kalau itu hak orang lain.

Persoalan bisa berkembang menjadi konflik kalau ada dua pihak saling berhadapan dengan kepentingan dan haknya masing-masing. Anak remaja jengkel karena merasa kebebasannya dibatasi oleh orang tua. Sebaliknya orangtua marah karena merasa wewenangnya diabaikan oleh anaknya. Demikian juga dalam hubungan suami-istri atau karyawan-majikan. Di sini ada dua pihak, tetapi masing-masing hanya melihat dari perspektif sendiri.

Ini namanya “Cuma mikir diri sendiri” alias “emang gue pikirin”.

Berpikir dari sudut pandang orang lain memang tidak mudah. Sebab itu pengarang Efesus mengajak kita belajar menempatkan diri pada pihak lain. Ia memberi pedoman kepada ke dua belah pihak. Dalam Efesus 5 ia menulis, “Hai istri,…” (ayat 22-24) dan “Hai suami,..” (ayat 25-32).

Ia melanjutkan dengan hubungan anak-orang tua, “Hai anak-anak,… (6:1-3), serta

“Dan bapa-bapa,…” (6:4).

Walaupun kata-kata yang digunakan untuk menasihati tiap pihak itu berbeda, namun ukuran dan berat muatan nasihat itu sama.

Lalu pengarang Surat Efesus ini memasuki persoalan hubungan karyawan-majikan (zaman itu: budak belian dan pemilik). Ia menulis, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kami taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia, Kamu tahu ..” (6:5-8).

Pengarang Efesus segera melanjutkan, “Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka” (ay. 9).

Di sini pun tampak bahwa meskipun panjangnya pedoman itu berbeda, namun inti dan bobotnya sama (perhatikan : “perbuatlah demikian juga” di ay. 9).

Apakah inti pedoman itu?

Intinya adalah nasihat untuk bersikap seperti kepada Kristus (perhatikan “sama seperti kamu taat kepada Kristus” di ayat 5, dan “seperti orang-orang yang melayani Tuhan” di ayat 7). Itu nasihat kepada Karyawan, lalu para majikan dinasihati. “Perbuatlah demikian juga terhadap mereka” (ay 9).

Jadi, Surat Efesus memberi pedoman agar karyawan memperlakukan majikan seperti Kristus, demikian juga agar majikan memperlakukan karyawan seperti Kristus. Bukan main dalamnya pengertian itu. Kalau kita sebagai karyawan dan majikan saling memperlakukan diri seperti Kristus, itu berarti kita berlaku benar, jujur dan adil.

Itulah pedoman baik untuk karyawan maupun untuk majikan. Pedoman itu bersifat timbal balik. Berlaku benar, jujur dan adil sebagai karyawan berarti kita bekerja dengan kesungguhan dan mutu. Berlaku benar, jujur dan adil sebagai majikan berarti kita menghargai martabat karyawan dan menggaji mereka dengan baik.

Hubungan timbal balik itu bisa terjadi kalau dari kedua belah pihak ada itikad baik: karyawan berprestasi secara optimal dan majikan menggaji secara optimal. Bertepuk sebelah tangan tiada akan berbunyi.

Kedua belah pihak juga perlu saling menghargai dan saling memerlukan. Karyawan memerlukan majikan karena majikan menyediakan lapangan kerja. Tanpa lapangan kerja kita semua menjadi penganggur. Sebaliknya, majikan juga memerlukan karyawan. Tanpa pekerja pabrik kita akan berhenti. Jadi, kita saling memerlukan.

Kalau begitu kita bukan hanya melihat kepentingan kita sendiri melainkan juga kepentingan pihak lain. Karyawan melihat kepentingan majikan, yaitu agar produksi berjalan secara optimal. Karena itu, karyawan perlu berdedikasi dan berprestasi secara optimal. Pada pihak lain, majikan melihat kepentingan karyawan, yaitu agar gaji dapat menghidupi dan mengembangkan kesejahteraan keluarga karyawan.

Menempatkan diri pada pikiran dan perasaan pihak lain, itulah akar hubungan timbal balik. Karyawan belajar melihat majikan bukan hanya sebagai bos, melainkan juga sebagai manusia yang punya pelbagai perasaan. Pada pihak lain, majikan belajar melihat karyawan bukan hanya sebagai tenaga kerja melainkan sebagai manusia yang punya kebutuhan dihargai, disapa dan dihormati.

Kita memang peka atas kepentingan kita, sebab itu kita gigih memperjuangkan hak itu. Agaknya kita masih perlu belajar untuk merasa peka atas kepentingan pihak lain dan bisa ikut membela hak pihak lain.

Kita berteriak kalau kaki kita diinjak. Kalau begitu kita perlu bias menyelami dan ikut merasakan nyeri yang dialami orang lain ketika kakinya terinjak. Yang pasti, kalau kita tidak mau diinjak, janganlah kita menginjak kaki pihak lain.

Hubungan timbal balik terjadi ketika kedua pihak mau menempatkan diri pada pikiran, perasaan dan sudut pandang masing-masing.

Seperti doa yang diucapkan orang Indian Sioux :

Great Spirit,

grant that I may not criticize my neighbour

until I have walked one moon in his moccasins.

Roh yang Agung,

Ajarlah aku tidak mengecam tetangga

Sampai aku berjalan selama satu rembulan dengan sandal ikat kakinya.

Leave a Reply