Nasibku karena aku bukan cowok batak yang memiliki gelar sarjana

molo naeng muruk tu pariban mon…go head iban hasian…

ALAI, taon!!??
dang songon i,ban?
jangan ambek!

senyum dulu diri mu, ban…hehehe…sumringah dunk??

gak nyangka aja seh kok keluar lagi tulisan seperti ini…arggghhhhh…
dang hurippu (salah gak neh tulisannya)
gabe songon on…ate ban?

cerita cinta dalam suka duka, sakit hati, emosi, kejugulan, arti teman & sahabat, TAON and terakhir berbahagia dunk?!

ciaouwww…

peace & love
~ds

omment-18588
Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana
(S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6
(enam) tahun.
Menurutku: “Horbo i pe molo dirahuti di kampus selama 5 taon boi do gabe sarjana”. (Kerbau kalau diikat dalam
kampus selama 5 tahun bisa juga sarjana).
Sebagai cowok batak yang saat ini mencari calon pasangan hidup seorang cewek batak, kata Sarjana ini sering
menjadi sesuatu yang menakutkan dalam pikiranku. Bagaimana nanti kalau aku ketemu seorang cewek batak yang
berpikir bahwa yang cocok mendampingi hidupnya harus cowok batak yang sarjana pula? Atau bagaimana nanti kalau
aku ketemu orang tua batak yang berpikiran bahwa yang cocok menikah dengan anaknya harus seorang sarjana? Apa
yang harus aku lakukan kalau terjadi hal seperti itu?
Hal ini sering aku diskusikan dengan teman-teman cowok batak yang notabene bernasib sama denganku yaitu cowok
cowok batak yang bukan sarjana. Saat-saat membahas masalah seperti ini sering berujung menjadi sesuatu yang
dianggap lelucon. Bagaimana tidak? Ternyata di jaman sekarang ini gelar sarjana ini sangat menentukan apakah
akan mendapat restu atau tidak dari orang tua cewek batak untuk berhubungan dengan anaknya.
Walaupun banyak teman teman cewek atau cowok yang sudah sarjana mereka selalu bilang bahwa gelar sarjana itu
tidaklah begitu penting. Tetapi karena mereka sendiri tidak akan berhadapan dengan situasi seperti yang aku
hadapi ini mereka bisa saja mengganggap masalah itu sepele. Yah.. wajar saja mungkin. Wong mereka tidak akan
pernah mengalaminya karena mereka memiliki gelar sarjana. Jadinya anggapan anggapan mereka itu tidak pernah bisa
menghilangkan rasa pesimisku untuk mendapatkan cewek batak seperti yang aku inginkan.
Di kalangan beberapa orang tua batak yang memiliki anak perempuan, banyak terjadi penolakan-penolakan apabila
anak perempuannya tersebut berhubungan dengan cowok batak yang tidak memiliki gelar sarjana. Seperti yang
baru-baru ini aku alami. Entah itu benar atau hanya sekedar alasan “aku ditolak dengan alasan tidak memiliki
gelar sarjana”. Tapi aku bisa menerima keadaan itu koq, aku tidak perlu marah atau kecewa dengan alasan itu.
Kalau saat inipun misalkan aku memiliki gelar sarjana belum tentu mereka menerimaku. Mungkin saja ada alasan
lain untuk menolak. Kesimpulanku aku tidak berjodoh aja dengan dia. He…he…he… terlalu sederhana ya?
Yang aku heran dari kejadian yang baru aku alami ini, kenapa sih mereka tidak melihat bahwa ada potensi dalam
diri seseorang itu walaupun dia tidak memiliki gelar sarjana? Apakah mereka mengganggap kalau aku bukan sarjana
aku tidak bisa menafkahi anaknya nanti? Bukankah berkat itu datang dari Tuhan? Bukan karena memiliki gelar
sarjanakan? Toh aku juga diberkati Tuhan tanpa aku harus memiliki gelar sarjana. Apakah aku harus bergelar
sarjana sehingga aku bisa menerima berkat? Nggakan?
Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya
sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan
anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”. Pernahkah dapat undangan pernikahan dari orang
batak tanpa mencantumkan gelar yang sudah dia miliki? Bahkan aku sendiiri pernah mendapatkan undangan pernikahan
dimana kedua pengantin tercantum gelar sarjana yang aku sendiri tidak tahu kapan itu mereka dapatkan. Yang saya
tahu kami sama-sama meninggalkan bangku kuliah dengan alasan tidak jelas.
Apa sih yang dicari dengan mencantumkan gelar tersebut? Hanya supaya dikomentari doang bahwa kedua pengantin itu
sarjana atau tidak. Mereka hanya peduli dengan gelar sarjana tersebut. Mereka tidak pernah peduli walaupun
seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana bisa juga menerima berkat yang melimpah dari Tuhan. Mereka tidak
pernah menyadari kalau untuk menerima berkat itu tidak harus melewati persyaratan pendidikan minimal S1.
Emangnya menerima berkat itu harus jadi pegawai negeri sipil dulu?
Belum lagi kalau kita lihat begitu banyak orang yang memiliki izazah sarjana tapi kertas selembar yang menjadi
bukti bahwa dia pernah menyelesaikan 144 sks sewaktu kuliah hanya tersimpan tak berguna di tumpukan file-file
dalam lemari. Bahkan kalau kata orang-orang sih sekarang banyak supir angkot dan kondektur angkutan umum
memiliki gelar sarjana. Benarkah? Kalaupun benar, inilah yang kumaksud dengan kerbau-kerbau yang terikat selama
5 tahun di kampus tersebut. Seharusnya mereka bisa bekerja dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan
otot. Apa bedanya dengan kerbau tadi yang tetap saja menggunakan otot? Tapi masa bodohlah dengan orang orang
seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak mau dibandingkan dengan orang orang seperti itu.
Yang paling aku syukuri pada Tuhan, saat ini aku bisa menerima berkat yang melimpah dari Dia. Kusadari kalau
Tuhan selalu memberiku berkat yang melimpah. Tuhan tidak pernah bertanya ataupun berkata “berkatmu kecil karena
kamu bukan sarjana” Justru yang kudapatkan berkatku melimpah karena aku bukan sarjana.
Dini hari Pkl. 02.22
~*~*~*~*~
Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun.
Menurutku: “Horbo i pe molo dirahuti di kampus selama 5 taon boi do gabe sarjana”. (Kerbau kalau diikat dalam kampus selama 5 tahun bisa juga sarjana).
Sebagai cowok batak yang saat ini mencari calon pasangan hidup seorang cewek batak, kata Sarjana ini sering menjadi sesuatu yang menakutkan dalam pikiranku. Bagaimana nanti kalau aku ketemu seorang cewek batak yang berpikir bahwa yang cocok mendampingi hidupnya harus cowok batak yang sarjana pula? Atau bagaimana nanti kalau aku ketemu orang tua batak yang berpikiran bahwa yang cocok menikah dengan anaknya harus seorang sarjana? Apa yang harus aku lakukan kalau terjadi hal seperti itu?
Hal ini sering aku diskusikan dengan teman-teman cowok batak yang notabene bernasib sama denganku yaitu cowok-cowok batak yang bukan sarjana. Saat-saat membahas masalah seperti ini sering berujung menjadi sesuatu yang dianggap lelucon. Bagaimana tidak? Ternyata di jaman sekarang ini gelar sarjana ini sangat menentukan apakah akan mendapat restu atau tidak dari orang tua cewek batak untuk berhubungan dengan anaknya.
Walaupun banyak teman teman cewek atau cowok yang sudah sarjana mereka selalu bilang bahwa gelar sarjana itu tidaklah begitu penting. Tetapi karena mereka sendiri tidak akan berhadapan dengan situasi seperti yang aku hadapi ini mereka bisa saja mengganggap masalah itu sepele. Yah.. wajar saja mungkin. Wong mereka tidak akan pernah mengalaminya karena mereka memiliki gelar sarjana. Jadinya anggapan anggapan mereka itu tidak pernah bisa menghilangkan rasa pesimisku untuk mendapatkan cewek batak seperti yang aku inginkan.
Di kalangan beberapa orang tua batak yang memiliki anak perempuan, banyak terjadi penolakan-penolakan apabila anak perempuannya tersebut berhubungan dengan cowok batak yang tidak memiliki gelar sarjana. Seperti yang baru-baru ini aku alami. Entah itu benar atau hanya sekedar alasan “aku ditolak dengan alasan tidak memiliki gelar sarjana”. Tapi aku bisa menerima keadaan itu koq, aku tidak perlu marah atau kecewa dengan alasan itu.
Kalau saat inipun misalkan aku memiliki gelar sarjana belum tentu mereka menerimaku. Mungkin saja ada alasan lain untuk menolak. Kesimpulanku aku tidak berjodoh aja dengan dia. He…he…he… terlalu sederhana ya?
Yang aku heran dari kejadian yang baru aku alami ini, kenapa sih mereka tidak melihat bahwa ada potensi dalam diri seseorang itu walaupun dia tidak memiliki gelar sarjana? Apakah mereka mengganggap kalau aku bukan sarjana aku tidak bisa menafkahi anaknya nanti? Bukankah berkat itu datang dari Tuhan? Bukan karena memiliki gelar sarjanakan? Toh aku juga diberkati Tuhan tanpa aku harus memiliki gelar sarjana. Apakah aku harus bergelar sarjana sehingga aku bisa menerima berkat? Nggakan?
Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”. Pernahkah dapat undangan pernikahan dari orang batak tanpa mencantumkan gelar yang sudah dia miliki? Bahkan aku sendiiri pernah mendapatkan undangan pernikahan dimana kedua pengantin tercantum gelar sarjana yang aku sendiri tidak tahu kapan itu mereka dapatkan. Yang saya tahu kami sama-sama meninggalkan bangku kuliah dengan alasan tidak jelas.
Apa sih yang dicari dengan mencantumkan gelar tersebut? Hanya supaya dikomentari doang bahwa kedua pengantin itu sarjana atau tidak. Mereka hanya peduli dengan gelar sarjana tersebut. Mereka tidak pernah peduli walaupun seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana bisa juga menerima berkat yang melimpah dari Tuhan. Mereka tidak pernah menyadari kalau untuk menerima berkat itu tidak harus melewati persyaratan pendidikan minimal S1.
Emangnya menerima berkat itu harus jadi pegawai negeri sipil dulu?
Belum lagi kalau kita lihat begitu banyak orang yang memiliki izazah sarjana tapi kertas selembar yang menjadi bukti bahwa dia pernah menyelesaikan 144 sks sewaktu kuliah hanya tersimpan tak berguna di tumpukan file-file dalam lemari. Bahkan kalau kata orang-orang sih sekarang banyak supir angkot dan kondektur angkutan umum memiliki gelar sarjana. Benarkah? Kalaupun benar, inilah yang kumaksud dengan kerbau-kerbau yang terikat selama 5 tahun di kampus tersebut. Seharusnya mereka bisa bekerja dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan otot. Apa bedanya dengan kerbau tadi yang tetap saja menggunakan otot? Tapi masa bodohlah dengan orang orang seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak mau dibandingkan dengan orang orang seperti itu.
Yang paling aku syukuri pada Tuhan, saat ini aku bisa menerima berkat yang melimpah dari Dia. Kusadari kalau Tuhan selalu memberiku berkat yang melimpah. Tuhan tidak pernah bertanya ataupun berkata “berkatmu kecil karena kamu bukan sarjana” Justru yang kudapatkan berkatku melimpah karena aku bukan sarjana.
Dini hari Pkl. 02.22

About dianasihotang

dianasihotang TETAP dianasihotang.Moto-ku adalah BERBAGI karena dua tangan, dua mata, dua telinga, hati-akal fikiran, dan alat komunikasi, serta waktu yang ku punya sudah diberikan-NYA selama ini, kenapa tidak aku berikan dan gunakan untuk membalas kasih BAPA? Tentang diri-ku Siapakah diri-ku? Riwayat Hidup-ku? dan inilah niat BERBAGI-ku yang dipersembahkan HANYA untuk kemulian-NYA Selalu dalam salam KASIH DAMAI dari hati yang paling dalam. peace & love/~ds/dianasihotang

Posted on October 25, 2008, in Paket Senggol & Milist / My Act, Paket Sosial Budaya / Social & Culture and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: