DUKUNGAN bagi Ibu Nurhayati br SIRAIT

HORAS tu hamu sude…

nunga ro muse…

yeeee…sedih banget gue baca KESAKSIAN ini…
alamak…
tu di ma?
tu dia na ma ahu?
tu dia boru/anak hi?
hayaaa…aaa…

Ibu Nurhayati br SIRAIT,
aku hanya bisa membaca, menyimak, memahami, memaklumi, merasakan apa yg terjadi,
apa yang diri mu rasakan, derita bathin mu tentunya…
apalagi dalam kesaksian mu yg terakhir mengatakan HARUS meninggalkan ke dua
anak, mu…
sangat sangat bisa aku rasakan, Ibu…
(amang oiiiiiii…)

dari hati yg paling dalam, aku dukung untuk Ibu, apa yang sudah dilakukan hingga
hari ini
(tetap sabar, kukuh & berani hadapi segala masalah yang akan dihadapi nanti)

hanya doa, hanya doa untuk Ibu yang dapat aku lakukan dari jauh.
tapi aku yakin Ibu dan anak2 akan keluar dari lingkaran ini!

Tuhan berkati Ibu

peace & love
~ds
<mauliate artikel indah ini, pariban nami SIMANJUNTAK>

(Kutipan-http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/76891)

~~~~~~~~~~~~~~~~

Nurhayati Sirait, Korban Kekerasan Suami-Sebuah Kesaksian
Oleh : Poltak SIMANJUNTAK

Atas semua tindak kekerasan, pemukulan, cacian, penghinaan yang menjadikan saya sebagai seorang perempuan, istri dari seorang suami yang gemar melakukan kekerasan dan ibu dari keempat anak-anakku yang juga mengalami penderitaan, saya dengan sangat terpaksa membuat kesaksian, berupa pengakuan jujur akan apa yang saya hadapi.

Selain, berharap ada yang tergerak untuk membantuku dalam kelemahan dan ketidakberdayaan yang menderaku, aku juga berupaya agar kejadian seperti ini tidak pernah terjadi kepada perempuan, istri dan ibu dari anak-anak yang lain, sebab hanya penderitaan yang terjadi.

kdrt41Saya, istri dan ibu dari anak-anakku, yang diberi nama Nurhayati Sirait, Lahir di Dairi, 11 Januari 1967, beralamat/ domisili di Jln. Pendoro IV RT 03 / 08 No. 4 Kota Depok, mengungkapkan sisi gelap kehidupanku menjalani kehidupan keluarga yang awalnya saya pendam, karena saya anggap hanya membuka aib keluarga.

Didorong penderitaan yang berkepanjangan dan harapan akan masa depan anak-anakku, maka aku harus bertindak untuk tidak terus menerima deraan kekerasan ini dengan diam. Walau saya sangat sadar, bahwa tidak ada kekuatan yang kumiliki sekarang, untuk keluar dari kemelut ini.

Keyakakinanku, Tuhan akan menunjukkan penolong bagi aku dan anak-anakku untuk melewatinya. Dan, harapan lain adalah, agar kasus yang sama tidak terjadi bagi orang lain yang mengetahui penderitaanku ini.

Diawali Pernikahan

Tanggal 16 Januari 1984, tanpa didahului masa berpacaran, saya akhirnya menikah dengan seorang pria dengan bernama Hasudungan Tambunan, lahir Medan, 5 September 1963, yang terpaut perbedaan umur 4 (empat) tahun denganku, di Gereja GKPI Glugur Darat – Medan.

Ketika perkawinan berlangsung di gereja, seharusnya menjadi saat yang paling bahagia dan damai, ternyata itu tidak terjadi, sebab laki-laki yang akan menjadi suami saya justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. Hal-hal yang menurutku tak perlu dikomentari secara berlebihan,seperti tata cara nikah gereja, ataupun prosesi adat dinodai dengan kata-kata kotor dan kasar yang tak pantas untuk didengar.

Saya kaget, mengenalnya satu bulan memang belum cukup untuk mengetahui pribadinya secara mendalam, tapi saat perkenalan kami, kelihatannya termasuk laki-laki yang baik dan sopan dan tidak pernah terlintas di benak saya, jika dia dia sangat kasar, walaupun saya tahu bahwa dia bekerja di pasar Blok M, Jakarta.

Enam bulan pertama, perselisihan sering terjadi, satu hal diantaranya adalah kehadiran Adik perempuan suamiku Emi Herawaty Tambunan yang juga tinggal se-rumah dengan kami, selalu menyulut pertengkaran-pertengkaran kami. Keberpihakannya terhadap anggota keluarganya selalu menjadi pemicu pertengkaran kami yang baru berkahir setelah Eda ku pulang ke Medan.

Bulan Desember 1994, pertengkaran terjadi di rumah hingga saat itu, dia (Suami) melempar saya dengan asbak dan saya lari menghindari amukannya yang semakin tidak terkendali. Suatu hari kami ribut tengah malam, dikarenakan dendam yang telah berkecamuk di hati saya, Saya tidak mau melakukan kewajiban saya sebagai istri, ini membuat saya diseret dan dipukuli. Saya lari ke rumah saudara dan berusaha menenangkan hati di sana. Ketika suasana hati mereda hingga dapat melupakan kejadian itu dan akhirnya aku kembali menjalankan kewajiban saya sebagai istri.

Desakan pihak keluarga untuk kembali ke rumah dan berlaku normal pun saya ikuti. Tapi hati saya masih sangat sakit karena perlakuan kasarnya, Ditambah lagi sikapnya yang seoalah-olah tidak pernah melakukan kesalahan – seolah tidak terjadi apa-apa – terlihat dari rona wajahnya yang justru menyuburkan rasa gundah di hati saya.

Melahirkan Anak Pertama, Berharap Membawa Perubahan

Marta Bella, putri kami lahir tanggal 8 Februari 1996, yang kuharapkan sebagai pembawa perubahan suami agar lebih bijaksana. Tapi harapan tinggal harapan. Sifat kasarnya tak pernah berubah. Kuakui bahwa dia memang pekerja keras. Dan aku menduga ada kemungkinan atas kerja kerasnya ini membuatnya menjadi orang yang mengukur kebahagiaan dari jumlah uang diperolehnya.

Percekcokan karena masalah pengeluaran keuangan pun tak pelak terjadi. Seberapa kerat pun aku berusaha menghemat penggunaan uang pemberiannya, namun dia selalu mencurigainya. Orang tuaku akhirnya mengetahui keadaan keluarga kami. Tanpa kumintai tolong, orang tuaku yang tinggak di Sidikalang Kabupaten Dairi, memberikan pertolongan dengan memberikan kepada kami sejumlah modal untuk kupergunakan menambah penghasilan. Dengan modal tambahan dari orang tua saya ini, saya akhirnya berdagang pakaian secara kredit.

Aku menekuni usaha ini walau harus membawa serta putri kami untuk berdagang keliling. Tidak berlangsung lama, tuntutan suami agar “siap sedia 24 jam” melayaninya. Begitu seringnya tuntutan ini dia kemukakan, hingga menjadi bahan perselisihan baru di antara kami. Padahal, walau saya harus berjualan, yang namanya kewajiban sebagai ibu rumah tangga tetap saya laksanakan.

Namun kerja keras bekerja di rumah dan berjualan keliling akhirnya kuhentikan, sebab menjadi sumber malapetaka yang menambah kesusahanku setiap hari. Setelah usaha itu aku hentikan, saya berupaya sekuat tenaga untuk melayaninya penuh, termasuk bangun tengah malam untuk menyiapkan hidangan baginya.

Hingga pada suatu suatu hari, ketika itu anak saya masih berusia 10 bulan, dan saya dalam keadaan sakit. Suami saya meminta dibuatkan santap larut malamnya. Saya tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa aku sedang sakit. Tapi dia terus mendesak dengan mengeluarkan umpatan keras dan bukannya mempercayai keadaanku yang sedang sakit. Dengan disaksikan oleh Lisbet Siboro, tetangga orang tua saya di Sidikalang, suami saya mengamuk sejadi-jadinya. Kepala, muka dan seluruh badan saya mendapat pukulan keras. Saya hanya bisa meringis dan menangis menahankan siksaan suami. Badan saya mengalami memar, lebam di sekujur tubuh dan aku tidak bisa melakukan perlawanan sebab tubuh lemah karena sakit.

Mendapat perlakuan biadab dan sangat menyakitkan seperti ini, akhirnya saat itu juga saya minta agar diceraikan saja. Sumai saya bukannya mengurangi siksaanya sambil berucap “Sana kamu pulang ke Sidikalang!”, sambil melayangkan pukulan ke mukaku. Menjambakku dan menghempaskan tubuh lemahku. Aku merasakan kesakita yang luar biasa.

Ingin lari dari hadapannya, namun saya harus bertahan mengingat saya sebagi istri yang menjunjung tinggi adat Batak, dan agama yang kupeluk. Penyiksaan ini berhenti setelah dia puas melampiaskan nafsu amarahnya. Dan, aku tidur meringkuk menahankan kesakitan akibat pukulan dan kesakitan yang sejak seharian menderaku.

Hidup berkeluarga di bawah ketakutan dan ancaman kekerasan terus kujalani. Saya, bertahan demi menjaga nama baik kedua orang tua saya. Selain itu, banyak anjuran tetangga, baik yang menghibur, walau tidak sedikit yang justru melontarkan ucapan dan penilaian yang menyakitakan telinga. Hingga waktu saya pulang ke Medan, karena ada acara pernikahan adik kami, keponakan saya Lisbet juga lari dari rumah, karena tidak tahan melihat saya selalu dipukuli.

Kejadian demi kejadian terus saya simpan. Tidak ada satupun keluarga yang tahu perlakuan kasar yang saya alami. Hanya menjadi cerita buruk di rumah tangga kami saja. Saya terus mencoba bertahan, hingga kami pindah ke Pondok Labu. Saat itu saya mengandung anak ke dua.

Kondisi saya sangat lemah saat kehamilan anak yang kedua, sehingga saya harus di bawah pengawasan dokter. Saat dua bulan usia kehamilan, mertua laki-laki saya meninggal dunia. Kami semua pulang. Barangkali terlalu capek setelah penguburan, saya mengalami pendarahan hebat, hingga dibawa ke Rumah Sakit dan diopname.

Suami saya benar-benar tidak perduli dan tak berniat sama sekali untuk menunggui saya di rumah sakit, melainkan mengutus orang lain yang juga tidak bersedia karena kesibukannya. Dalam kindisi kesakitan di rawat di rumah sakit, saya marah besar yang justru ditanggapinya dengan ucapan sangat kasar. Melontarkan kata-kata kotor dan caci makian. Bahkan saat saya menderita pendarahan sekalipun, tak ada kasih dalam bentuk kepeduliannya – selain memaki – hanya tekanan “Cepat Pulang ya!”. Dia menunjukkan keberatannya atas biaya pengobatan, dan bukan memikirkan kesehatan saya.

Tak tahan dengan penderitaan dan kesedihan ini, saya menceritakannya kepada kakak saya. Rasa kasihan dan iba, akhirnya kakak saya membawa saya pulang ke Sidikalang untuk dirawat. Namun, pendarahan terus berlangsung, saya kembali diopname di Kabanjahe. Setelah beberapa hari di rawat di RS di Berastagi, dan pendarahan terhenti, saya untuk sementara tinggal di rumah mertua di Medan, sedangkan suami saya pulang ke Jakarta. Tak tahan dengan sikap mertua saya yang seakan tak peduli dan sama sekali tidak menghargai kehadiran saya, akhirnya saya memutuskan kembali ke Jakarta.

Memasuki usia 8 (delapan) bulan kandungan saya, kami ribut lagi. Pemicu keributan menyangkut uang. Suami saya, menampar saya sekuat tenaganya, dan akibat kesakitan dan keterkejutan saya menjerit sejadi-jadinya, sambil memegangi perut saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya dalam keadaan hamil. Di luar dugaanku, suami saya malah berucap lain yang sangat menyakitkan hati.

Kalau sedari dulu aku tahu begini keadaanmu, setiap hamil pendarahan terus, saya tidak mau kawin, dengan kau!” Sungguh kata-kata yang tidak layak diucapkan oleh seorang suami. Saya hanya bisa diam dan tetap berdoa – walaupun sebagai orang Kristen yang jarang ke Gereja – saya merasakan bahwa doa menjadi sumber penghiburan saya di tengah masa-masa sulit saya berumah tangga, serta selalu mengingat bahwa kunci kesuksesan rumah tangga ada di tangan seorang ibu.

Tanggal 24 September 1998 lahirlah anak perempuan kami yang ke dua Masta Septy. Di usianya yang masih 3 (tiga) bulan terjadi pertengkaran yang kembali membuat saya mengalami kekerasan fisik. Saya ditendang, segala sumpah serapah terlontar dari mulutnya. Anak kami yang masih bayi ikut menjadi korban, sebab kami terlibat dalam perkelahian. Saling tarik-menarik. Secara kasar dia menarik tubuhku ketika berupaya lari menjauh darinya. Anak yang saya gendong turut menangis, sebab terkena benturan.

Di bawah ancamannya untuk tetap tinggal atau pergi tanpa anak-anak. Saya hanya sempat membawa “kabur” bayi saya. Tapi dengan pertimbangan malu dengan tetangga, saya kembali pulang. Sejak saat itu nyaris kami bagai orang asing yang tidak saling bertegur sapa.

Hingga suatu hari tetangga datang dengan kumpulan marga untuk menasehati kami agar kami hidup layaknya suami istri yang saling mengasihi dan saling terbuka. Namun, begitu banyak pun nasehat, atau anjuran baik dari tetangga, maupun keluarga, jika menghadapi persoalan pasti menimbulkan pertengkaran.

Baginya uang yang ada adalah uangnya, bukan uang kamu. Setiap uang yang diberikannya selalu disertai dengan suatu pertanyaan “kemana saja uang itu kamu pakai?”. Padahal, pada tahun 1994 ketika itu, saya hanya diberi setiap bulan hanya Rp. 150.000,-. Setelah anak pertama lahir menjadi Rp. 250.000 per bulan. Tambah anak lagi, di beri uang Rp. 20.000,- per hari. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakannya, inilah yang saya jalani hingga bulan Juli 1999, kami pindah rumah ke Pondok Labu waktu itu.

Melahirkan Putra Kembar

Moses dan adiknya Madya lahir. Kelahiran anak kembar dan laki-laki pula membuat saya senang dan berharap suami saya akan berubah. Ternyata itu hanya harapan kosong. Suami saya tetap saja tidak bergeming. Baginya, uanglah yang menjadi prioritas utamanya.

Seingat saya, setiap bertengkar, kepala saya selalu menjadi sasaran utama, dibenturkan ke tembok. Saya masih ingat, pertengkaran kami yang paling dahsyat, tahun 2005 silam, dan sampai saat ini tidak bisa hilang dari ingatan saya.

Bermula dari kios kami yang terbakar di kawasan Blok M. Praktis suamiku tidak lagi berdagang. Akulah yang mencari uang dengan membuka took sembako di rumah. Saat itu uang yang kami pakai untuk berbisnis dibawa lari orang, tidak tanggung-tanggung, Rp.150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Saat itu, saya dilempar kursi, hingga mengenai badan dan kepala saya (hingga saat ini ini, kursi itu saya simpan). Disertai caci maki kasar, “Setan. Kurang ajar. Mampus Kau”, diiringi lemparan kursi.

Bekas memar dan luka di tubuhku, kuobati dengan harapan agar tidak sempat terlihat oleh orang lain. Rasa sakit dan ketakutan, membuatku menjadi perempuan, istri dan ibu anak-anak yang tidak percaya diri. Takut salah dan menjadi pendiam. Aku memendam kesakitan dan dendam terhadap perlakuan kasar. Bagiku hidup bagai di neraka.

Sementara anak-anakku tidak saja menyaksikan kekerasan terhadapku. Mereka juga menjadi korban. Mereka ketakutan setiap hari. Sebab, ketika makan kalau dalam kondisi marah, suamiku yang bapaknya anak-anakku tidak segan-segan memukul mereka bahkan membuang nasinya. Begitu besar ketakutan anak-anakku terhadap bapaknya, sehingga suatu ketika mereka harus bersembunyi di kamar mandi menghindari penyiksaan bapaknya. Bahkan yang lebih menyayat hati, suatu ketika anakku yang perempuan itu, berani bersembunyi di atap rumah, hanya untuk bersembunyi dari bapaknya.

Dalam kondisi biasa pun, suami saya hanya tertarik pada pembicaraan mengenai uang. Dia memperingatkan supaya tidak menghabiskan uang di took. Tidak boleh mengirimkannya ke orang tua. Rupanya dia mencurigai aku, telah mengirimkan uang kepada orang tua saya di Sidikalang. Padahal, sebaliknyalah yang terjadi. Orang tua saya yang secara ekonomi berkecukupan karena membuka usaha Toko Emas di Sidikalang, sering mengirimi kami uang.

Mendapat tuduhan seperti ini, saya tetap bersabar dan saya merawat anak-anaku, yang sudah mulai tumbuh besar. Namun, walaupun saya tidak melakukan perlawanan, ketika dia marah, tetap saja dia berani melempari saya dengan karung berisi beras. Reaksi yang saya bisa perbuat hanya menangis, tapi dia semakin marah dan semakin melempari saya dengan barang-barang yang ada di dekatnya. Ini terjadi berulang kali dan kerap disaksikan para sales-sales yang kebetulan datang ke toko.

Ketakutan selalu dipukul dan dimaki suami, menghantui hidup saya setiap hari dalam menjalankan usaha sembako. Ketika suami saya memulai mempertanyakan uang, dan ketika stok barang di toko semakin berkurang, maklum keuntungan bahkan modal terpaksa harus terpakai membiayai hidup keluarga, akhirnya saya meminjam uang pada Bp Rista, untuk menambah modal toko sebesar Rp.10.000.000,-.

Dengan tambahan modal ini, usaha kami dapat bertahan dan berkembang sehingga mendorong saya berani meminjam ke Bank Danamon. Pihak bank juga menaruh kepercayaan melihat perkembangan toko saya yang boleh dikatakan maju. Sehingga meluluskan pemberian kredit tanpa agunan sebanyak Rp. 11 juta dimana saya harus mengangsurnya sebesar Rp. 1.250.000,- per bulannya, selama setahun.

Segala usahaku untuk mengembangkan usaha kami ini ternyata bukan mendapat tanggapan positif dari suami saya. Tindakannya justru semakin menjadi-jadi. Jika dia melakukan pemeriksaan laci dan mendapati bahwa uang hanya sedikit, dia langsung marah-marah dan mulai mencaci-maki. Tidak hanya itu, suatu ketika saya juga pernah dilempar tabung gas ukuran kecil, sambil tak lupa menyertakan umpatan “Setan. Anjing kau!”, katanya berulang-ulang.

Tanggal 5 Pebruari 2009, ketika anak-anak membutuhkan sejumlah uang untuk biaya sekolah, sementara uang tersedia dari toko tidak cukup jumlahnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk menggadaikan emas yang dia simpan senilai Rp.8.500.000,-. Untuk memberitahu sebelumya saya sudah pastikan tidak mendapat ijin, sementara kebutuhan sekolah anak-anak mendesak.

Sepandai-pandai saya menutupi, ternyata suamiku yang sedari dulu sudah menaruh curiga, akhirnya mengetahui bahwa emas kami yang disimpan tidak lagi berada ditempatnya semula. Akhirnya saya menjelaskan bahwa emas itu saya gadaikan sementara menunggu uang dari toko terkumpul. Dan, uang hasil gadai itu saya pergunakan untuk membiayai biaya sekolah anak-anak. Ketakutan saya ternyata terbukut. Tanpa menunggu waktu lama, suami saya langsung bereaksi. Marah dan langsung memukul kepala saya dengan sepatunya. Saya merasakan pusing dan sempoyongan. Tidak cukup dengan lemparan sepatu, dia melemparkan laci meja yang mengenai wajah saya hingga memar dan berdarah.

Hampir hilang kesadaranku, hingga tak mampu untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Tangisanku dan jeritan anak-anak tidak diperdulikan. Kemarahanya semakin menjadi-jadi. Kepala, tangan dan sekujur tubuhku terasa sakit. Hingga hari ini, di pelipis atau tulang pipih saya masih sakit kalau ditekan dan kepala saya sebelah kiri sering sakit akibat pukulan laci. Jempol sebelah kanan saya sakit hingga kini, karena saya pakai melindungi kepala ketika dia menginjak kepala saya.

Tanggal 21 Maret 2009, tidak tahan lagi merasakan kesakitan, hinaan, caci maki, akhirnya saya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Saya membutuhkan uang, yang saat itu semua uang sudah dikuasai oleh suami, sehingga saya mengupayakan dengan meminjam uang kepada tetangga sebesar Rp. 2.000.000,- untuk membeli tiket. Karena kekurangan uang untuk membeli tiket untuk lima orang dan mengingat 2 anak saya masih sekolah, akhirnya dengan uraian air mata, saya membeli tiket hanya untuk 3 (tiga) orang, saya dan 2 (dua) anak saya yang kembar. Sementara yang dua anak saya harus saya tinggalkan.

Tanggal 22 Maret 2009, saya ke Bandara tanpa uang untuk membayar Air Port Tax. Dengan semua kemampuan mengekspresikan penderitaanku, akhirnya petugas di Bandara Cengkareng memuluskan aku dan kedua anakku masuk ke ruang tunggu tanpa bayar Air Port Tax. Dengan menumpang pesawat Lion Air, penerbangan pukul 20.40 wib, saya tiba di Medan (Polonia) pukul 22.56 polonia, dan langsung menuju rumah temanku di Jl. Sisingamangaraja Medan.

Selama 3 (tiga) hari di rumah temanku ini, akhirnya hari Rabu, 25 Maret 2009, saya dijemput oleh ibu yang melahirkanku R. br. Simanjuntak dan Kakak kandungku Rosdiana br. Sirait untuk dibawa ke Sidikalang. Sekarang, aku sudah aman dari ancaman pukulan dan kekerasan suami. Tetapi, kedua anakku ternyata mengalami penderitaan seperti yang kualami. Melalui pembicaraan telepon, aku tahu bahwa kedua anakku terpaksa meninggalkan rumah dan pergi ke rumah saudara yang tergolong jauh. Bukan semakin tenteram, namun aku tersiksa memikirkan nasib mereka berdua Martha dan Mastha yang sekolahnya terganggu, ketakutan dan hidup tanpa kasih sayang ibunya.

Oh Tuhan, sampai kapan badai ini menerpaku. Aku tak kuat lagi…..

Saya yang menuturkan penderitaan,

Nurhayati Sirait

Poltak Simanjuntak
http://poltak.simanjuntak.or.id
YM: poltak_7765

About dianasihotang

dianasihotang TETAP dianasihotang.Moto-ku adalah BERBAGI karena dua tangan, dua mata, dua telinga, hati-akal fikiran, dan alat komunikasi, serta waktu yang ku punya sudah diberikan-NYA selama ini, kenapa tidak aku berikan dan gunakan untuk membalas kasih BAPA? Tentang diri-ku Siapakah diri-ku? Riwayat Hidup-ku? dan inilah niat BERBAGI-ku yang dipersembahkan HANYA untuk kemulian-NYA Selalu dalam salam KASIH DAMAI dari hati yang paling dalam. peace & love/~ds/dianasihotang

Posted on April 2, 2009, in Paket Senggol & Milist / My Act. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Waduh…, sedih ito, sungguh sedih. Saya lelaki yang juga seorang suami, tidak bisa menerima hal yang dilakukan suami ito itu. Terus terang, sy juga orangnya tempramentalis, dan emosional, yang terkadang marah kepada istri. Namun tdk lah begitu, tiap hari dan tanpa alasan.
    Saya hanya curiga, ada sesuatu yang disimpan oleh suami ito. Banyak kemungkinannya, barangkali WIL, Karakter Keras (sy lupa istilah ilmu psikologinya), tapi bisa juga karena faktor keluarga sendiri (dari pihak suami ito).
    Untuk itulah, dibutuhkan DOA, IBADAH kpd Tuhan, dan bersekutu dengan TUHAN setiap hari. Itulah sumber Damai Sejahterah di Rumah Tangga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: