BABAM

Lima huruf dalam satu kata dalam Bahasa Batak yang sangat sering didengar, dikatakan, diucapkan, diungkapkan oleh seseorang kepada orang lain atau malah sering datang kepada diri kita sendiri atau dari kita sendiri kepada orang lain. Hal ini sangat banyak dikeluarkan dan diucapkan oleh ‘halak hita’ dan ‘non halak hita’ yang tinggal di daerah berpenduduk Suku Tapanuli. Barangkali dapat dikatakan kebiasaan buruk alias tuman untuk mengeluarkan satu kata tersebut meskipun demikian kadang seseorang mengeluarkannya tanpa disadarinya (kebiasaan.read).

‘BABAM’ dapat diartikan mulut mu dalam Bahasa Indonesia.
Untuk ‘halak hita’ dapat dikategorikan dan termasuk sebuah kata yang kasar. Kalau ditinjau dari makna Bahasa Indonesia kata mulut mu, emang kasar banget, coy! Itu menurut ku ya.

Menurut salah seorang yang dekat dengan ku, kata ‘BABAM’ biasanya digunakan oleh seseorang kepada orang lain yang dianggap sudah dekat atau bahkan sudah sangat dekat.
Kata ‘BABAM’ juga dan biasanya digunakan seseorang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda darinya. Bukan dikarenakan lebih tua menjadikan seseorang seenaknya bicara tetapi lebih pantas saja jika dipandang dari segi etika usia dan etika berbicara.

Pertama kali aku mendapatkan kata ‘BABAM’ dari seseorang, sangat mengejutkan, ‘wouw’ ini orang kasar amat ya?’, itu fikiran ku pada saat lalu. Meskipun demikian kata ‘babam’ tersebut hingga saat ini sering dituliskan dan diucapkannya kepada ku. Biarkanlah, ‘asa sonang roham’ (biar senang diri-mu.read).
Kadang-kadang terbesit sebuah pertanyaan, ‘kok hubungan dekat malah makin kasar ya kata-katanya?’.
‘Kok, orang tua malah ngajarin dan kasih contoh kata yang kasar ya?’. Bisa jadi demikian.

Kata ‘BABAM’ akan lain maknanya jika diucapkan kepada ‘halak hita’ kepada seseorang yang baru dikenal. Kemungkinan dan kebiasaan ‘halak hita’ akan menimpali dengan kata-kata lainnya jika orang tersebut sudah merasa tidak nyaman, ‘dang maradat ho’ atau bahkan kalimat lainnya yang mengarah ke sebuah emosi. Sering kali bahkan ‘halak hita’ langsung ‘muruk’ atau emosi dengan cara ributnya. Itulah sisi kehidupan unik Orang Batak.

So akankah tetap kita pertahankan dan dikembangkan kata ‘BABAM’ yang sudah ada ini untuk di kemudian hari?
Atau akankah kita sebagai ‘halak hita’ akan selalu menggunakan kata ‘kasar’ ini?

Dari semua yang dituliskan dan keterbatasan ku dalam memaknai kata ‘BABAM’ tersebut maka sudah seharusnya aku meminta maaf duluan (bah) kepada semua Orang Batak tetapi tidak salah jika mau dibahas dan dikoreksi.

by me (~ds/ap-22apr09)
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
terimakasih ku kepada dia yang sangat sering mengatakan dan menuliskan ‘BABAM’ ke diri ku, karena hanya dia yang dapat demikian. lucu aja jadinya!?
tetapi dari semua itu tak lupa juga terimakasih ku kepadanya karena dia-lah ide penulisan ini terinspirasi untuk digoreskan.

About dianasihotang

dianasihotang TETAP dianasihotang.Moto-ku adalah BERBAGI karena dua tangan, dua mata, dua telinga, hati-akal fikiran, dan alat komunikasi, serta waktu yang ku punya sudah diberikan-NYA selama ini, kenapa tidak aku berikan dan gunakan untuk membalas kasih BAPA? Tentang diri-ku Siapakah diri-ku? Riwayat Hidup-ku? dan inilah niat BERBAGI-ku yang dipersembahkan HANYA untuk kemulian-NYA Selalu dalam salam KASIH DAMAI dari hati yang paling dalam. peace & love/~ds/dianasihotang

Posted on April 23, 2009, in Paket Renungan / Reflection, Paket Sosial Budaya / Social & Culture. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Didik WIJAYANTO

    Yang dimaksud mungkin seperti Bahasa Jawa ada ngoko, krama, krama madya, krama inggil penggunaannya sesuai tingkatan

    Siapa yang diajak bicara, antar temen baik/sobat bisa beda dengan temen aja atau temen baru kenal, bicara dengan orang yang lebih tua atau dituakan akan beda dengan bicara dengan sahabat, begitu seterusnya.

    Selain itu juga harus diterapkan dimana lokasi kita berbicara, bicara di pasar, di ladang, di rumah, di kantor, di kraton semuanya berbeda.

    Namun sudah seharusnya sebagai orang Kristen, kita harus menyortir kata2 atau kalimat2 yang kasar atau mengandung sarkasme.

    Ingat apa yang keluar dari mulutmu itulah hati mu.
    Rasul Paulus pun menasihati “apa yang baik apa yang benar…”

    Saya kira yang diungkapkan Tante D ini berbeda dengan Budaya Batak secara keseluruhannya. Orang Batak harus berubah oleh pembaharuan budinya sebagai seorang Kristen, bukan hanya Batak yang berbaju Kristen saja.

    di2
    (Mail-DW / 23apr09)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: