Goresan Harian Kristianiku, Selasa-o8 Januari 2o13

Goresan Harian Kristianiku Untuk Catatan Halaman Facebook dianasihotang poenya weblog, Selasa, o8 Januari 2o13

Goresan Harian Kristianiku

Goresan Harian Kristianiku

Kejadian dalam Catatan Harianku kali ini terjadi per kemarin malam, Senin-o7 Januari 2o13.

Antara pukul 15.oo hingga 17.oo WIB kemarin bolak-balik aku mencoba melakukan kontak seluler dengan satu sahabat tetapi sayang tak kunjung baik sinyal ku dapatkan. Memang sangat menyebalkan jika harus terus menanti sinyal baik itu datang dengan penuh kesabaran. Sambil mendongkol dalam hati lebih baik ku ambil laptop dan mencari kebahagiaan bersama persahabatanku ala dunia maya yaitu facebook.

Tepat pukul 19.oo WIB, ku hentikan kegiatan tersebut dan ku ulang kembali menghubungi sahabat tersebut. Rupanya sinyal seluler belum juga duduk manis di kursinya.

Tanpa berfikir panjang ku hubungi adikku. Usai ‘ngobrol’ dengan adikku, ku ulangi kembali untuk menghubungi satu sahabat tersebut. Eh, belum juga pulih si sinyal. Greget rasanya dalam hatiku.

Entah kenapa ku ingat satu nama seorang teman dimana saat Natal kemarin aku berjanji akan menghubunginya. Ku buka pesan pendek Natal darinya sambil memeriksa nomor selulernya dan kemudian langsung ku hubungi. Eh, nyambung.!
‘Selamat malam, sis. Apa khabarmu.?’
‘Baik. Siapa nih.?
‘Aku, Diana Sihotang, sis. Kan sudah ku katakan dalam pesanku terakhir bahwa aku akan menghubungimu lewat nomor yang sama providernya denganmu. Maklumlah, selain lebih murah, kita juga bisa lebih lama dalam percakapan, Sis. Heheheee…’

Rani, nama samaran baginya. Dia adalah salah satu teman yang saat ini tinggal di Lampung, sebaya denganku, dan baru kertemu kembali di facebook setelah puluhan tahun tak bersua. Saat ini Rani memiliki masalah dalam rumah tangganya dimana suaminya sudah meninggalkannya beserta ke dua anaknya yang mulai tumbuh besar dalam kurun waktu setahun belakangan ini.

Pertanyaanku hanya dua sebelum Rani banyak cerita perihal persoalan rumah tangganya yaitu apakah aku pantas mendengar persoalan rumah tangganya serta serta bagaimana keuangannya saat ini untuk melanjutkan penghidupan dirinya bersama ke dua anaknya yang masih berusia 15 tahun dan 13 tahun.

Jawabannya menenangkan hatiku karena Rani 1oo% mempercayaiku. Untuk masalah keuangan ternyata Rani bisa diandalkan karena rupanya dia juga pandai membuat kue untuk dijual kesana kemari. Selain itu Rani juga mendapatkan persenan dari penjualan rumah atau tanah dimana ada orang yang membutuhkan jasanya dan yang paling menenangkanku adalah saat Rani mengatakan bahwa dalam kurun waktu 4 tahun belakangan ini dia sudah aktif melakukan kegiatan sosial keagamaan.

Beberapa kali isak tangisnya ku dengar saat Rani menceritakan secara lengkap perihal masalah rumah tangganya. Saat itu pulalah baru ku tahu bahwa dulunya Rani menikah dengan seorang duda beranak satu (duda sah secara hukum.red) yang saat ini usia anak tersebut menginjak 25 tahun dan saat ini si suami berpaling hatinya kepada wanita lain yaitu istri pertamanya. Dari cerita Rani pula baru ku tahu bahwa di saat Rani melangsungkan pernikahannya belasan tahun lalu memakai cara singkat dan cara itu berada di luar keyakinannya. Pemikiranku sama dengan Rani bahwa si suami tetap berselingkuh walau pun wanita selingkuhan tersebut adalah istri pertamanya.

Saat ini Rani dalam keadaan dilema dimana satu sisi dia ingin bercerita banyak untuk meluapkan perasaan sedih hatinya tetapi sisi lainnya dia tidak percaya kepada orang lain. Hal ketidak percayaan ini pun bisa terjadi kepada Para Ibu yang menjadi teman kesehariannya di dalam Organisasi Keagamaan yang diikutinya tetapi dengan tegas ku katakan padanya bahwa jangan pernah mencoba untuk bercerita apa pun jika memang terlintas satu kata yaitu keraguan apalagi masalah rumah tangganya tersebut.
‘Mereka hanya mau tau ada apa sebenarnya dengan keluargamu, Sis. Mereka hanya mau tau kenapa ini kenapa itu di dalam rumah tanggamu. Jika pernah kau ceritakan masalahmu tersebut maka alhasil mereka pulalah yang akan menceritakan kembali dan malah menyebarkan ‘gossip’ kepada khalayak ramai tanpa berbeban rasa. Jangan lupa, Sis, mereka tidak memberikan solusi tapi malah memberi beban berat bagi hati dan fikiranmu. Alangkah lebih baik kau pergi ke pemuka agamamu atau kau pilih teman yang memang bisa kau anggap sahabat. Itu saranku, Sis.’

Aku sependapat dengan langkah yang sudah diambil Rani selama ini dimana saat masalah rumah tangganya terjadi maka di saat itulah dia banyak ‘curhat’ kepada pemimpin rumah ibadahnya dan hal ini masih terus Rani lakukan hingga saat ini.

Satu hal yang membuat Rani terkejut dimana saat ku katakan padanya bahwa jangan pernah mengubur luka hatinya karena semakin banyak Rani bercerita tentang masalah tubuh keluarganya kepada mereka yang dianggapnya sahabat maka dengan sendirinya luka hati tersebut akan terkubur dalam. Menurut Rani cara tersebut adalah nasihat terbaru baginya.

Rani juga bercerita bahwa dia sangat geram, timbul kebencian, dan juga timbul luapan emosi di saat melihat kehadiran suaminya yang sekedar berkunjung untuk melihat ke dua anaknya. Selain itu Rani juga melarang suaminya untuk masuk ke dalam rumah dan cukup duduk manis di teras rumah saat dia datang bertandang sejenak untuk melihat anak mereka. Ke dua anak tersebut pun menyanggupinya. Bagaimana tidak.?

Anak bungsu Rani yang saat ini sudah duduk di Kelas 9 saja dapat mengatakan bahwa Papanya adalah laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan hal kebencian terhadap seorang Papa juga dia tuliskan dalam sebuah karangan tulisan di sekolahnya.

Harapan Rani aku anggap baik adanya dengan mengatakan bahwa dia tidak menginginkan ke dua anaknya membenci Papa mereka tetapi saran baikku malah membuatnya terkejut. Ku katakan padanya dengan tegas bagaimana caranya seseorang bisa mengatakan jangan pernah membenci seseorang jika di dalam hati dan fikiran diri sendiri pun belum pernah terhapus kata benci dan malah hilang kata maaf.
‘Obat dari kebencian dan amarahmu hanya kata maaf bagi dirimu sendiri, Sis. Setelah dirimu dapat memaafkan dirimu sendiri maka niscaya kau pun akan bisa memaafkan suamimu meski pun saat ini dia sudah pergi meninggalkanmu. Aku hanya bisa merasakan luka hatimu tapi ingatlah jika dirimu sudah bisa mengobati dirimu sendiri dengan cara mengampuni kesalahan suamimu maka saat itu pulalah kamu baru dapat mengajarkan serta menanamkan harapan baik kepada ke dua anakmu yaitu untuk tidak membenci Papa mereka.!’
‘Kau tahu cara terbaik mendapatkan obat bagi dirimu itu.? Hanya tekun dalam doa. Tidak lain tidak bukan yaitu tekun dalam doa. Jika kamu mengatakan padaku bahwa dirimu sudah berdoa tetapi masih ada setitik kebencian dalam dirimu maka doa yang kau lakukan adalah nul. Maafkan aku harus berkata demikian, Sis. Cobalah bangun tengah malam, duduk diam sejenak, kemudian sujudlah berdoa secara tulus hati dan kemudian tumpahkan segala uneg-uneg yang ada di dalam hatimu selama ini hanya kepada Tuhan. Katakan padaNya bahwa segala sesuatu yang sudah ada dan akan terjadi hanya boleh terjadi karenaNya saja. Yakinlah, Sis keajaiban itu akan datang yaitu punahnya kebencian.Titik.’

Usai cerita seorang ayah yang selalu setia menanti pulang dan memaafkan salah satu anaknya yang hilang pada Rani, entah kenapa terlintas dan teringat kembali sebuah cerita keluarga yang pernah ku baca di Bulan Desember 2o12 lalu. Bacaan tersebut ku dapatkan dari status cerita Amang Walz (Mauliate godang, Amang). Yang ku tangkap dari salah satu masalah keluarga tersebut adalah bagaimana seorang ibu harus memutuskan sebuah keputusan dan memaafkan. Satu sisi si ibu harus membantu mengeluarkannya suaminya dari salah satu rumah sakit karena alasan ludesnya harta yang diambil istri simpanannya yaitu sekretarisnya sendiri tetapi sisi lainnya ke dua buah hatinya sangat menentang bahkan sangat tidak setuju jika ibunya membantu ayah. Cerita tambahan ini yang ku ceritakan kembali kepada Rani dan lebih menekankan kepada sisi pernikahan dalam hal suka dan duka serta dipisahkan oleh kematian.

Harapan dan doa ku sampaikan juga pada Rani di akhir percakapan kami per kemarin malam dan saat ini ku hanya bisa berharap agar saat ini Rani mau belajar memaafkan dirinya sendiri baru kemudian diai bisa menyelesaikan masalah lainnya bersama ke dua anaknya dengan hati yang tulus dan penuh suka cita.
Satu doa khusus bagimu, sobat.!

Salam Kasih
by me (~ds/dianasihotang/ap-tue-o8jan13)

About dianasihotang

dianasihotang TETAP dianasihotang.Moto-ku adalah BERBAGI karena dua tangan, dua mata, dua telinga, hati-akal fikiran, dan alat komunikasi, serta waktu yang ku punya sudah diberikan-NYA selama ini, kenapa tidak aku berikan dan gunakan untuk membalas kasih BAPA? Tentang diri-ku Siapakah diri-ku? Riwayat Hidup-ku? dan inilah niat BERBAGI-ku yang dipersembahkan HANYA untuk kemulian-NYA Selalu dalam salam KASIH DAMAI dari hati yang paling dalam. peace & love/~ds/dianasihotang

Posted on January 30, 2013, in BERBAGI / SHARED OUT, Paket Ucapan & Kesaksian / Testimony and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: