Monthly Archives: October 2008

Nasibku karena aku bukan cowok batak yang memiliki gelar sarjana

molo naeng muruk tu pariban mon…go head iban hasian…

ALAI, taon!!??
dang songon i,ban?
jangan ambek!

senyum dulu diri mu, ban…hehehe…sumringah dunk??

gak nyangka aja seh kok keluar lagi tulisan seperti ini…arggghhhhh…
dang hurippu (salah gak neh tulisannya)
gabe songon on…ate ban?

cerita cinta dalam suka duka, sakit hati, emosi, kejugulan, arti teman & sahabat, TAON and terakhir berbahagia dunk?!

ciaouwww…

peace & love
~ds

omment-18588
Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana
(S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6
(enam) tahun.
Menurutku: “Horbo i pe molo dirahuti di kampus selama 5 taon boi do gabe sarjana”. (Kerbau kalau diikat dalam
kampus selama 5 tahun bisa juga sarjana).
Sebagai cowok batak yang saat ini mencari calon pasangan hidup seorang cewek batak, kata Sarjana ini sering
menjadi sesuatu yang menakutkan dalam pikiranku. Bagaimana nanti kalau aku ketemu seorang cewek batak yang
berpikir bahwa yang cocok mendampingi hidupnya harus cowok batak yang sarjana pula? Atau bagaimana nanti kalau
aku ketemu orang tua batak yang berpikiran bahwa yang cocok menikah dengan anaknya harus seorang sarjana? Apa
yang harus aku lakukan kalau terjadi hal seperti itu?
Hal ini sering aku diskusikan dengan teman-teman cowok batak yang notabene bernasib sama denganku yaitu cowok
cowok batak yang bukan sarjana. Saat-saat membahas masalah seperti ini sering berujung menjadi sesuatu yang
dianggap lelucon. Bagaimana tidak? Ternyata di jaman sekarang ini gelar sarjana ini sangat menentukan apakah
akan mendapat restu atau tidak dari orang tua cewek batak untuk berhubungan dengan anaknya.
Walaupun banyak teman teman cewek atau cowok yang sudah sarjana mereka selalu bilang bahwa gelar sarjana itu
tidaklah begitu penting. Tetapi karena mereka sendiri tidak akan berhadapan dengan situasi seperti yang aku
hadapi ini mereka bisa saja mengganggap masalah itu sepele. Yah.. wajar saja mungkin. Wong mereka tidak akan
pernah mengalaminya karena mereka memiliki gelar sarjana. Jadinya anggapan anggapan mereka itu tidak pernah bisa
menghilangkan rasa pesimisku untuk mendapatkan cewek batak seperti yang aku inginkan.
Di kalangan beberapa orang tua batak yang memiliki anak perempuan, banyak terjadi penolakan-penolakan apabila
anak perempuannya tersebut berhubungan dengan cowok batak yang tidak memiliki gelar sarjana. Seperti yang
baru-baru ini aku alami. Entah itu benar atau hanya sekedar alasan “aku ditolak dengan alasan tidak memiliki
gelar sarjana”. Tapi aku bisa menerima keadaan itu koq, aku tidak perlu marah atau kecewa dengan alasan itu.
Kalau saat inipun misalkan aku memiliki gelar sarjana belum tentu mereka menerimaku. Mungkin saja ada alasan
lain untuk menolak. Kesimpulanku aku tidak berjodoh aja dengan dia. He…he…he… terlalu sederhana ya?
Yang aku heran dari kejadian yang baru aku alami ini, kenapa sih mereka tidak melihat bahwa ada potensi dalam
diri seseorang itu walaupun dia tidak memiliki gelar sarjana? Apakah mereka mengganggap kalau aku bukan sarjana
aku tidak bisa menafkahi anaknya nanti? Bukankah berkat itu datang dari Tuhan? Bukan karena memiliki gelar
sarjanakan? Toh aku juga diberkati Tuhan tanpa aku harus memiliki gelar sarjana. Apakah aku harus bergelar
sarjana sehingga aku bisa menerima berkat? Nggakan?
Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya
sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan
anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”. Pernahkah dapat undangan pernikahan dari orang
batak tanpa mencantumkan gelar yang sudah dia miliki? Bahkan aku sendiiri pernah mendapatkan undangan pernikahan
dimana kedua pengantin tercantum gelar sarjana yang aku sendiri tidak tahu kapan itu mereka dapatkan. Yang saya
tahu kami sama-sama meninggalkan bangku kuliah dengan alasan tidak jelas.
Apa sih yang dicari dengan mencantumkan gelar tersebut? Hanya supaya dikomentari doang bahwa kedua pengantin itu
sarjana atau tidak. Mereka hanya peduli dengan gelar sarjana tersebut. Mereka tidak pernah peduli walaupun
seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana bisa juga menerima berkat yang melimpah dari Tuhan. Mereka tidak
pernah menyadari kalau untuk menerima berkat itu tidak harus melewati persyaratan pendidikan minimal S1.
Emangnya menerima berkat itu harus jadi pegawai negeri sipil dulu?
Belum lagi kalau kita lihat begitu banyak orang yang memiliki izazah sarjana tapi kertas selembar yang menjadi
bukti bahwa dia pernah menyelesaikan 144 sks sewaktu kuliah hanya tersimpan tak berguna di tumpukan file-file
dalam lemari. Bahkan kalau kata orang-orang sih sekarang banyak supir angkot dan kondektur angkutan umum
memiliki gelar sarjana. Benarkah? Kalaupun benar, inilah yang kumaksud dengan kerbau-kerbau yang terikat selama
5 tahun di kampus tersebut. Seharusnya mereka bisa bekerja dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan
otot. Apa bedanya dengan kerbau tadi yang tetap saja menggunakan otot? Tapi masa bodohlah dengan orang orang
seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak mau dibandingkan dengan orang orang seperti itu.
Yang paling aku syukuri pada Tuhan, saat ini aku bisa menerima berkat yang melimpah dari Dia. Kusadari kalau
Tuhan selalu memberiku berkat yang melimpah. Tuhan tidak pernah bertanya ataupun berkata “berkatmu kecil karena
kamu bukan sarjana” Justru yang kudapatkan berkatku melimpah karena aku bukan sarjana.
Dini hari Pkl. 02.22
~*~*~*~*~
Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun.
Menurutku: “Horbo i pe molo dirahuti di kampus selama 5 taon boi do gabe sarjana”. (Kerbau kalau diikat dalam kampus selama 5 tahun bisa juga sarjana).
Sebagai cowok batak yang saat ini mencari calon pasangan hidup seorang cewek batak, kata Sarjana ini sering menjadi sesuatu yang menakutkan dalam pikiranku. Bagaimana nanti kalau aku ketemu seorang cewek batak yang berpikir bahwa yang cocok mendampingi hidupnya harus cowok batak yang sarjana pula? Atau bagaimana nanti kalau aku ketemu orang tua batak yang berpikiran bahwa yang cocok menikah dengan anaknya harus seorang sarjana? Apa yang harus aku lakukan kalau terjadi hal seperti itu?
Hal ini sering aku diskusikan dengan teman-teman cowok batak yang notabene bernasib sama denganku yaitu cowok-cowok batak yang bukan sarjana. Saat-saat membahas masalah seperti ini sering berujung menjadi sesuatu yang dianggap lelucon. Bagaimana tidak? Ternyata di jaman sekarang ini gelar sarjana ini sangat menentukan apakah akan mendapat restu atau tidak dari orang tua cewek batak untuk berhubungan dengan anaknya.
Walaupun banyak teman teman cewek atau cowok yang sudah sarjana mereka selalu bilang bahwa gelar sarjana itu tidaklah begitu penting. Tetapi karena mereka sendiri tidak akan berhadapan dengan situasi seperti yang aku hadapi ini mereka bisa saja mengganggap masalah itu sepele. Yah.. wajar saja mungkin. Wong mereka tidak akan pernah mengalaminya karena mereka memiliki gelar sarjana. Jadinya anggapan anggapan mereka itu tidak pernah bisa menghilangkan rasa pesimisku untuk mendapatkan cewek batak seperti yang aku inginkan.
Di kalangan beberapa orang tua batak yang memiliki anak perempuan, banyak terjadi penolakan-penolakan apabila anak perempuannya tersebut berhubungan dengan cowok batak yang tidak memiliki gelar sarjana. Seperti yang baru-baru ini aku alami. Entah itu benar atau hanya sekedar alasan “aku ditolak dengan alasan tidak memiliki gelar sarjana”. Tapi aku bisa menerima keadaan itu koq, aku tidak perlu marah atau kecewa dengan alasan itu.
Kalau saat inipun misalkan aku memiliki gelar sarjana belum tentu mereka menerimaku. Mungkin saja ada alasan lain untuk menolak. Kesimpulanku aku tidak berjodoh aja dengan dia. He…he…he… terlalu sederhana ya?
Yang aku heran dari kejadian yang baru aku alami ini, kenapa sih mereka tidak melihat bahwa ada potensi dalam diri seseorang itu walaupun dia tidak memiliki gelar sarjana? Apakah mereka mengganggap kalau aku bukan sarjana aku tidak bisa menafkahi anaknya nanti? Bukankah berkat itu datang dari Tuhan? Bukan karena memiliki gelar sarjanakan? Toh aku juga diberkati Tuhan tanpa aku harus memiliki gelar sarjana. Apakah aku harus bergelar sarjana sehingga aku bisa menerima berkat? Nggakan?
Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”. Pernahkah dapat undangan pernikahan dari orang batak tanpa mencantumkan gelar yang sudah dia miliki? Bahkan aku sendiiri pernah mendapatkan undangan pernikahan dimana kedua pengantin tercantum gelar sarjana yang aku sendiri tidak tahu kapan itu mereka dapatkan. Yang saya tahu kami sama-sama meninggalkan bangku kuliah dengan alasan tidak jelas.
Apa sih yang dicari dengan mencantumkan gelar tersebut? Hanya supaya dikomentari doang bahwa kedua pengantin itu sarjana atau tidak. Mereka hanya peduli dengan gelar sarjana tersebut. Mereka tidak pernah peduli walaupun seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana bisa juga menerima berkat yang melimpah dari Tuhan. Mereka tidak pernah menyadari kalau untuk menerima berkat itu tidak harus melewati persyaratan pendidikan minimal S1.
Emangnya menerima berkat itu harus jadi pegawai negeri sipil dulu?
Belum lagi kalau kita lihat begitu banyak orang yang memiliki izazah sarjana tapi kertas selembar yang menjadi bukti bahwa dia pernah menyelesaikan 144 sks sewaktu kuliah hanya tersimpan tak berguna di tumpukan file-file dalam lemari. Bahkan kalau kata orang-orang sih sekarang banyak supir angkot dan kondektur angkutan umum memiliki gelar sarjana. Benarkah? Kalaupun benar, inilah yang kumaksud dengan kerbau-kerbau yang terikat selama 5 tahun di kampus tersebut. Seharusnya mereka bisa bekerja dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan otot. Apa bedanya dengan kerbau tadi yang tetap saja menggunakan otot? Tapi masa bodohlah dengan orang orang seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak mau dibandingkan dengan orang orang seperti itu.
Yang paling aku syukuri pada Tuhan, saat ini aku bisa menerima berkat yang melimpah dari Dia. Kusadari kalau Tuhan selalu memberiku berkat yang melimpah. Tuhan tidak pernah bertanya ataupun berkata “berkatmu kecil karena kamu bukan sarjana” Justru yang kudapatkan berkatku melimpah karena aku bukan sarjana.
Dini hari Pkl. 02.22

Advertisements

Kiai Nikahi Bocah 12 Tahun <== bagaimana dengan kita, BATAKers?

tidak terbayangkan saja jika terjadi demikian.
motivasinya apa ya menikah dengan seorang GADIS kecil yg masih berumur 12th (KTP sudah punya belum yaaa? hmm…)

kalau dinilai dari segi agama yg diperbolehkan, manut deh…mau dikata apa…
kalau dari segi kesehatan? emang hanya asupan gizi doank yg diperlukan
bagi seorang GADIS berumur 12th untuk perkembangannya? wouw!!??
kalau dinilai dari segi psikologis yg ada dalam artikel di bawah?
hmmm…maksa diri GADIS tersebut dunk yaa dalam perkembangannya…
apalagi disebutkan perkembangan biologis…

nah ini dia…kalau dilihat dari segi ORBA alias ORANG BATAK?
ada yg ungkap pendapat…jangan munafik…heheheh…bener juga sih…

enggak kebayang aja, ada orang tua BATAK (bukan sukuisme nih) kasih anak GADISnya (12thn) untuk menikah dengan pria (aku anggap dewasa ajalah)…
kalaupun ada, yg bermasalah dalam masalah ini siapa yaa?
orang tuanya atau si prianya atau malah si anak GADIS yg berumur 12 thnnya?
atawa gadis2 BATAK yg sudah berumur (siap nikah-read) tidak ada yg memikat hati pria itu kah?
wouw!!??

mauliate

~~~~~~~~~~~~~~~
In Batak_Gaul@yahoogroups.com, Ronal Baharuddin Hutagaol, ronalb@htgmedia.net

Ini adalah Pedophilia yang di SAHKAN/LEGAL…. luar biasa… kok bisa2nya ya….

———————kutipan———–
Rabu, 22/10/2008 17:50 WIB
Kiai Nikahi Bocah 12 Tahun
Anggota DPR: Tak Masalah Asal Semua Tercukupi
Hestiana Dharmastuti – detikNews

Jakarta – Tindakan Pujiono Cahyo Widianto atau Syekh Puji menikahi Lutfiana Ulfa (12) menuai kontroversi. Bagi Wakil Ketua DPR Hilman Rosyad Syihab menilai secara agama, kesehatan, psikologis maupun sosiologis pernikahan itu tidak ada masalah.

Hilman menjelaskan, secara syariah Islam selama perempuan sudah haid maupun belum haid sekali pun dapat dinikahkan.

“Jadi secara hukum agama nggak ada masalah, diperbolehkan. Rasulullah menikahi Aisyah di usia 7 tahun, tetapi nggak campur sampai akil balig,” kata Hilman kepada detikcom, Selasa (22/10/2008).

Hilman mengatakan, dari sisi kesehatan juga tidak masalah menikahi bocah di bawah umur.

“Kalau sudah balig nggak masalah, selama asupan gizinya tercukupi. Jadi kalau dia hamil dan masih dalam masa pertumbuhan kan dibutuhkan gizi baik. Selama tercukupi gizinya ya nggak masalah,” papar dia.

Selain itu, lanjut Hilman, jika dilihat dari sisi psikologis pun tidak ada masalah. “Karena perkembangan psikologis beriringan dengan perkembangan biologis. Jika normal, secara metabolisme mempengaruhi sikap psikologisnya,” ujar dia.

Politisi PKS ini pun menuturkan, dari kacamata sosial pernikahan kiai semacam ini cerita lama.

“Itu banyak dilakukan di kalangan pesantren. Orang tua akan bangga anaknya dinikahkan kiai ketimbang dengan pemuda tanggung,” ujarnya.

Bagaimana dari sisi pendidikan? “Kalau suaminya baik dan konsen pada pendidikan istri maka melibatkan istrinya meneruskan pendidikan. Kalau tidak mau pendidikan formal ya di pesantren kan ada Diniyah Ula (SD) dan Diniyah Wustho (SMP). Kalau khawatir dengan lingkungan, ya masukkan ke pesantren,” papar Hilman.

Menurut dia, perkawinan itu menjadi masalah jika terbukti ada pemaksaan dan pelanggaran hak anak.

“Itu bisa dikaitkan dengan UU Perlindungan Anak dan UU KDRT,” ujarnya.

Pujianto adalah kiai nyentrik pemilik Ponpes Miftakhul Jannah, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Ia sebelumnya menghebohkan dengan berita bagi-bagi zakat sebesar Rp 1,3 miliar. Pada Agustus ini, Syech Puji menikah secara siri dengan Lutfiana Ulfa yang baru lulus SD. Ulfa merupakan istri keduanya.
(aan/iy)

from =
http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/71511
http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul-Chat/message/11202

ADUK KOMPOSISI PERBEDAAN ANDA

kasih sayang vs kemarahan
ketertarikan vs rasa bosan
ketenangan hati vs perubahan
pembatasan vs kebebasan
komposisi itu semua berlawanan khan?

coba deh adukkan komposisi tersebut…
Anda akan mendapatkan CINTA yg sangat besarrrr…

MALEAKHI 3 : 13 – 14A

MALEAKHI 3 : 13 – 14A
3:13 Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN.
Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?”

3:14a Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah.”

MALACHI 3 : 13 – 14A
3:13 Your words have been stout against me, saith the LORD.
Yet ye say, What have we spoken so much against thee?

3:14a Ye have said, It is vain to serve God

Apakah IBADAH PENTING bagimu?

Tuhan Berkati

APA SIH DIRI-MU?

tau enggak, apa sehhh diri mu?
DIRI mu adalah apa yg kamu fikirkan…

PROVERBS 3 : 27

AMSAL 3 : 27
Janganlah menahan kebaikan
dari pada orang-orang yang berhak menerimanya,
padahal engkau mampu melakukannya. YES!

PROVERBS 3 : 27
Withhold not good from them to whom it is due,
when it is in the power of thine hand to do.

JANGAN berhenti berbuat baik,
karena engkau sudah terima kebaikkan TUHAN

Tuhan berkati

CURI WAKTU BAGI SAHABAT MU

curi waktu deh untuk menghubunginya, SAHABAT dapat mengatakan yang sebenarnya TANPA menyakiti kok
benar demikian? pasti dong…

%d bloggers like this: